Pages

Sabtu, 08 November 2014

Satpol PP-WH dan Pentungannya

Satpol PP-WH dan Pentungannya
Oleh: Mansari
Berbagai aksi kekerasan, intimidasi dan teror merupakan tantangan serius yang dihadapi oleh Satpol PP-WH dalam menegakkan syariat Islam. Fenomena tersebut membuat hati miris dan memprihatinkan sehingga memerlukan solusi untuk membendung dan mengantisipasi agar ke depan tidak terulang kembali. Aksi kekerasan terakhir menimpa Danton Wilayatul Hisbah saat patroli dengan mobil operasional menjelang subuh pada minggu 26/10/2014 yang sempat menyita perhatian public.
Namun apa hendak dikata, penegak hukum syariat tidak dipersenjatai lengkap saat melaksanakan tugas. Mereka hanya diberikan sebatang pentungan untuk menertibkan dan menggerebek tempat-tempat maksiat. Sehingga tidak jarang menimbulkan aksi kekerasan, pemukulan saling menyerang antara petugas dengan masyarakat yang ditertibkan. Seperti letusan senjata api saat petugas Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh saat menggerebek salah satu salon di Peunayong pada 16 Agustus 2014 lalu. Pengeroyokan kadis syariat Islam Langsa oleh sekumpulan pemuda mabuk ketika membubarkan “Pesta Keaboard” di Gampong Karang Anyar (25/8) dan sederetan aksi kekerasan lainnya yang dialami oleh satpol PP-WH dalam menjalankan tugas yang diembankan kepadanya. Ini merupakan tantangan besar bagi mereka untuk memelihara dan menjaga eksistensi syariat Islam di Aceh. Keinginan yang kuat tanpa diberikan sarana pendukung yang lengkap mustahil terwujud seperti yang diharapkan. Sebaliknya mereka akan mengalami nasib yang sama bila tidak ada langkah antipati dan memberikan fasilitas perlengkapan complete saat melaksanakan tugas.


Polisi Inggris Meninggalkan Pentungan
Ratusan tahun yang lalu, Polisi Inggris sangat dikagumi sekaligus disegani oleh masyarakat. Sikap kegentlemen-an warga Inggris tertuang pula pada sikap hormat mereka sangat tinggi kepada polisi. Meskipun senjata yang digunakannya berupa pentungan tapi tidak ada tindakan kekerasan yang menimpanya. Akhirnya pada tahun 1994, polisi Inggris terpaksa meninggalkan pentungan akibat dari banyaknya anggota polisi Inggris yang tewas dan terluka parah akibat diserang oleh penjahat. Bahkan Konon menurut the times, dalam tahun 1993 saja terjadi 3.370 kali penyerangan terhadap polisi Inggris. Bahkan tahun sebelumnya, tahun 1992 terjadi 3.606 kali penyerangan terhadap polisi Inggris. Wajarlah, menteri dalam negeri Inggris 1994, Michael Howard, telah menyetujui untuk mengganti senjata pentungan menjadi senjata api berupa pistol Smith & Wessons Caliber 38. (Prof. Achmad Ali: 2012, 240)
            Peralihan penggunaan “pentungan” kepada “senjata api”  merupakan sebuah tuntutan zaman yang tidak dapat dielakkan mengingat para penjahat sering melakukan aksi premanisme. Mau tidak mau turut sebagai konsekuensi perubahan sosial mempengaruhi perubahan hukum dan penegakannya. Bagi penegak hukum syariat di Aceh, melihat aksi pengeroyokan, pengancaman yang sering dipertontonkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab tidak mustahil meniru perubahan seperti yang dilakukan oleh Polisi Inggris. Sangat sulit kiranya hukum syari’at akan dapat ditegakkan, bila kita masih mempertahankan pentungan yang selama ini dibawa ke mana-mana oleh Satpol PP-WH. Lauren M. Friedman pernah mengungkapkan bahwa suatu hukum akan berlaku efektif dengan terpenuhinya tiga unsur, yaitu substansi hukum (substantional of law), penegak hukum (law enforcement) dan budaya hukum (culture of law). Meskipun qanun-qanun jinayah dan acara jinayah telah tersusun secara sistematis dalam bentuk produk hukum, tidak mempunyai arti apa-apa tanpa adanya penegak hukum yang mampu melaksanakan segala aturan-aturan yang telah ditetapkan serta memberikan sarana dan prasana pendukung yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas. 
Kendala yang terjadi di lapangan selama ini adalah kurangnya fasilitas pendukung sehingga kerapkali terjadinya aksi kekerasan yang melukai aparat. Dalam kondisi demikian seolah-olah para aparat tidak berdaya menghadapi oknum-oknum tertentu, sehingga dengan mudahnya memperlakukan aparat semena-mena karena tidak ada senjata yang dapat melumpuhkan lawan. Barangkali kita dapat membuat penelitian kecil-kecilan dengan mengambil sampel 1000 warga masyarakat Aceh sebagai responden untuk menilai jumlah warga masyarakat yang setuju Satpol PP-WH dipersenjatai. Di Inggris telah dipraktekkan demikian pada saat Polisi di sana dipersenjatai, di mana 30 % dari 1000 Responden menyetujuinya, 37 % tidak menyatakan secara tegas, namun bila diperlukan mereka tidak keberatan dipersenjatai pistol dan sisanya sama sekali tidak menyetujui senjata pentungan Polisi diganti dengan Pistol.
Lalu bagaimana kita menyikapi bila hal tersebut dilakukan di Aceh, apakah akan diterima oleh setiap lapisan masyarakat atau menyetujuinya dalam situasi tertentu atau bahkan menolaknya dengan tegas. Penulis sangat yakin, mayoritas masyarakat menyetujui Satpol PP-WH dipersenjatai lengkap untuk melindungi dirinya dalam bertugas. Sebab masyarakat Aceh sangat antusias mendukung penegakan syariat Islam di Aceh. Hanya daerah-daerah tertentu saja yang kerapkali melakukan perlawanan saat aparat bertugas yang dapat menghambat pemberlakuan syariat Islam.
Paradigma Legalistic Positivisme
            Paradigma yang masih mendominasi kita terhadap penerapan syariat Islam masih dipengaruhi oleh paradigm “legalistic positivism” yang bersumber dari paradigma Barat abad ke-17 hingga abad ke-19. Ciri yang sangat dominan dari paradigm ini adalah hukum itu sebagaimana yang tertuang dalam hukum positif atau perundang-undangan. Kemudian mengharuskan dalam bentuk perintah (command), kewajiban (duties) dan sanksi (sanction). Menjalankan syariat Islam di Aceh terancam kedangkalan berpikir, karena orang lebih membaca huruf-huruf yang terdapat dalam qanun daripada berusaha menjangkau makna dan nilai yang lebih dalam. Menarik apa yang dikatakan oleh Paul Scholten, seorang Guru Besar Belanda, “hukum memang ada dalam undang-undang, tetapi masih harus ditemukan”. Pernyataan tersebut sekarang mendapatkan dukungan dan pembenaran kuat. Mencari hukum dalam peraturan adalah menemukan makna dan nilai yang terkandung dalam peraturan bukan hanya membacanya secara datar begitu saja. Qanun-qanun syariat Islam yang berlaku di Aceh sudah seharusnya dipahami dan direnungi maknanya secara mendalam dan hakikat dari pelarangan serta sanksi yang ditetapkan. Bila hal tersebut dilakukan, maka tidak perlu adanya pentungan dan senjata complete bagi Satpol PP-WH. Sebaliknya bila usaha tersebut tidak dilakukan, maka sudah seyogyanya penegak hukum syariat diberikan kewenangan menggunakan perlengkapan yang memadai untuk melindungi dirinya dari ancaman dan teror yang mengancam nyawanya. Karena hal ini merupakan tuntutan zaman yang menghendaki demikian.

Mansari, Mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum Unsyiah Banda Aceh



Rabu, 10 September 2014

Arah Hidup Tidak Bisa Ditebak

Setiap manusia yang memiliki akal dan perasaan berkeinginan mencapai hidupnya mewah, pendapatan di atas rata-rata, memiliki isteri dan anak-anak cantik, memiliki kekayaan yang melimpah. Namun tidak ada satupun yang bisa memastikan bahwa kehidupan yang demikian dapat dicapai dalam waktu singkat. Butuh usaha yang sungguh dan kerja keras dalam mewujudkannya. Melalui usaha dan kerja keras keinginan itu akan dapat diraih. Hasil kerja keras yang sudah kita wujudkan bukan berarti tidak hilang lagi. Ia akan datang dan pergi bahkan akan datang kembali. Roda kehidupan akan terus berputar. Kita tidak bisa menebak arah hidup kita sendiri. Hari ini kita memiliki kekayaan yang melimpah, isteri cantik dan rumah mewah. Tapi suatu saat keindahan itu akan hilang sirna. Hari ini memili jabatan dan pangkat tinggi, yakinkanlah bahwa tidak selama akan menjadi milik kita. Briptu Norma Kamaru seorang mantan Brimob yang sempat disanjung-sanjung media, dipopulerkan oleh media melalui lagu “Chaiya-Chaiya” dan goyangannya yang sempat menghebohkan media setanah air. Sehingga ia diajak untuk berdialog kesana kemari, meskipun ia masih berstatus sebagai anggota Brimob. Namun sekarang kehidupannya menjadi berubah. Norman Kameru sekarang menjadi populer lagi. Kepopulerannya sekarang bukan dikarenakan goyangannya. Tapi kepopulerannya itu dikarenakan beralihnya profesi dari seorang Briptu menjadi tukang bubur. Itulah sebuah contoh kehidupan kita yang tidak bisa ditebak kemana arahnya. Apakah ke depan semakin baik ataukah semakin semakin berantakan. Itu semua tidak bisa kita tebak. Karena perjalanan kehidupan kita telah diatur oleh-Nya. Ada seseorang pada saat sekarang memiliki kemapanan hidup yang mapan, belom tentu ke depan juga mengalami hal yang sama apakah baik atau tidak. Ada juga yang kehidupannya sekarang tidak baik, namun di akhirat mendapatkan posisi yang sangat baik. Kita hanya bisa bersyukur atas rahmat yang telah diberikan Allah. Lihatlah ke bawah di saat kita diberikan kelebihan, karena yang di bawah dari kita hidupnya jauh lebih rendah dari pada apa yang sedang kita miliki. Jangan terlalu melihat ke atas, karena akan cenderung menghalalkan berbagai cara untuk mencapai apa saja yang kita inginkan demi terwujudnya kemewahan-kemewahan.

Selasa, 10 Desember 2013

Transparansi Pengelolaan Zakat

Transparansi Pengelolaan Zakat Oleh : Mansari Zakat merupakan salah satu ibadah pokok dalam ajaran Islam yang juga rukun Islam (arkanul islam) ketiga yang multi dimensi fungsinya bila dibandingkan dengan ibadah mahdhah lainnya. Ibadah zakat selain berpengaruh pada tingkat keimanan seseorang dalam menunaikannya juga berpengaruh pada kondisi sosial perekonomian kemasyarakatan. Berbeda halnya dengan shalat yang hanya berpengaruh pada siapa saja yang melaksanakannya, tapi tidak ada korelasi dengan nilai-nilai humanisme. Mardani menyebutkan zakat bertendensi nilai moral, sosial dan ekonomi. Dalam bidang moral zakat mengikis habis ketamakan dan keserakahan orang kaya. Dalam bidang sosial zakat bertindak sebagai alat khas yang diberikan Islam untuk menghapuskan kemiskinan dari masyarakat dengan menyadarkan orang kaya akan tanggung jawab sosial yang mereka miliki. Dalam bidang ekonomi zakat mencegah penumpukan kekayaan yang mengerikan dalam tangan segelintir orang . Zakat dapat berperan sebagai instrument pengentasan kemiskinan bila pengelolaannya dilakukan secara transparan dan accountable. Untuk tujuan ini dibutuhkan sebuah lembaga yang memiliki kredibilitas dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan umat. Bila tidak dikelola dengan management yang handal, transparan dan penuh kejujuran, maka mustahil akan terwujud tujuan zakat yang sesungguhnya. Zakat tidak akan bisa dinikmati oleh para mustahik yang sebenarnya, akan tetapi akan dikonsumsi oleh pengelolanya. Kesuksesan penyaluran zakat hanya bisa dibaca dalam cerita klassik, tapi tidak bisa dipraktekkan di masa kini. Untuk itulah dibutuhkan sebuah lembaga zakat yang bisa mengatur, mengelola, merencanakan program-program yang dibutuhkan masyarakat dan mampu mendistribusikan zakat dengan penuh nilai-nilai kejujuran. Banyaknya aturan tentang zakat seperti Undang-Undang Nomor 38 tahun 1999 jo Undang-Undang nomor 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat tidak akan berpengaruh sama sekali bila tidak sinergi dengan pengelolanya. Akan tetapi kedua pilar tersebut harus disatupadukan visi dan misinya agar dalam penyaluran zakat lebih bermakna. Ujung Tombak Kesejahteraan Masyarakat Problematika kemiskinan merupakan salah satu penyebab munculnya permasalahan perekonomian masyarakat. Disparitas pemasukan antara orang kaya (aghniya) dengan orang miskin akan menimbulkan kecemburuan sosial yang pada suatu waktu akan menjadi konflik tersendiri. Sifat iri, dengki dan benci akan timbul kepada orang-orang yang memiliki penghasilan yang lebih besar darinya. Akibatnya akan timbul keretakan sosial diantara mereka, bahkan ada yang apatis antara satu dengan lainnya. Keadaan seperti itulah yang kemudian direspon dalam ajaran Islam dengan cara memberdayakan perekonomian yang lemah menjadi sama dengan mereka yang berpenghasilan tinggi. Ajaran Islam menawarkan zakat sebagai salah satu solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah kemiskinan. Bahkan zakat merupakan lembaga pertama dalam sejarah Islam yang mampu menjamin kehidupan bermasyarakat secara ma’ruf. Zakat dapat berperan sebagai ujung tombak untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat miskin. Kesejahteraan tersebut akan terwujud bila adanya komitmen bersama antara badan pengelola zakat (baitul mal) dengan muzakki (pemberi zakat) serta adanya management pengelolaan zakat yang transparan dan professional. Dalam hal ini kita bisa mengambil pola management sederhana namun bergizi yang dipelopori oleh James Stoner. Ia mengungkapkan empat konsep dasar management yang harus dilakukan untuk menjalankan roda organisasi yang bermutu, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan/pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling) . Terwujud atau tidaknya tujuan zakat tergantung pada sejauhmana kemampuan dan profesionalisme pengelola zakat dalam merencanakan program kerja dan pendistribusian zakat kepada orang yang berhak menerimanya. Untuk itu, maka diperlukan seorang yang mempunyai kapabilitas, kreatifitas, inovatif dan mampu menciptakan terobosan baru yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Karena tujuan zakat adalah bagaimana caranya untuk melahirkan muzakki baru dari mustahik zakat. Artinya orang yang berhak menerima zakat sekarang tidak bisa dibiarkan begitu terus sampai kapanpun. Akan tetapi harus diupayakan agar ke depan ia menjadi muzakki baru untuk menyalurkan zakatnya kepada orang lain yang lebih berhak dari hartanya. Oleh karena itu, terobosan yang harus diciptakan adalah dengan cara memberikan modal usaha kepadanya dalam menghasilkan nilai ekonomis. Pendistribusian zakat yang semacam ini disebut juga dengan istilah zakat produktif. Berbeda halnya dengan zakat konsumtif dimana uang hasil zakat digunakan untuk keperluan sehari-hari yang tidak bisa diproduktifitaskan.Disitulah sikap kekritisan pengelola zakat memainkan perannya dalam menciptakan terobosan dan inovasi baru yang lebih bermanfaat kepada masyarakat. Bila sikap kritis dan profesionalitas lembaga zakat tidak ada maka akan menimbulkan tumpang tindih lembaga dalam pendistribusian zakat. Dana zakat yang seharusnya diserahkan kepada delapan asnaf (samaniyatun asnaf) salah dalam pendistribusiannya. Misalnya saja penyaluran kepada korban bencana alam seperti bencana gempa yang seharusnya tidak bisa digunakan dari hasil zakat. Karena hasil zakat hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang telah ditetapkan dalam al-Quran. Bukan bermaksud tidak boleh disalurkan kepada korban gempa untuk membantu mereka, bahkan ajaran Islam meminta agar semua umat Islam saling tolong menolong. Tapi harus diambil dari dana lain yang bukan dari hasil zakat. Penanganan korban bencana sudah memiliki lembaga sendiri untuk membiayainya yang telah disediakan oleh pemerintah. Oleh karena itu tidak bisa digunakan uang yang diperoleh dari hasil zakat. Karena akan berakibat berkurangnya hak orang-orang yang lebih berhak mendapatkannya. Meskipun kurang tepat sasaran dalam penyaluran, tapi patut diapresiasikan kepada lembaga zakat kita. Karena zakat merupakan bagian dari hokum fiqh, dan hokum fiqh tidak terlepas dari ijtihad bila terjadi hal-hal baru yang sebelumnya belum ditemukan. Sesuai dengan kaidah fiqh “taghaiyuril ahkam bi taghaiyuril azman wal amkan”, perubahan suatu hokum ditentukan oleh perubahan waktu dan tempat. Oleh karena itu sangat cocok bila bila dilihat dalam kondisi kekinian demi kemaslahatan dan membantu umat yang lagi musibah. Terobosan baru yang bisa diselenggarakan oleh lembaga zakat yang memiliki manfaat bagi komunitas masyarakat barangkali untuk membangun rumah sakit zakat di Aceh. Rumah sakit memang sudah merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat luas yang perlu disediakan oleh lembaga zakat dari hasil zakat yang diperoleh dari masyarakat. Dengan adanya rumah sakit zakat, tentunya akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Masyarakat tidak perlu lagi membayar kepada tenaga medis rumah sakit, akan tetapi sudah ditanggung oleh dana dari zakat. Meskipun tidak sesuai pembagiannya kepada mustahik zakat, tapi hasilnya bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Yang tidak hanya dikonsumsi oleh fakir dan miskin, bahkan semua kalangan bisa menikmatinya. Mengingat begitu besar pengaruhnya zakat bagi kesejahteraan masyarakat, sudah seharusnya kita semua harus sadar bahwa zakat tidak hanya bernilai individual, tapi bernilai sosial. Dan dapat memberikan makna tersendiri bagi orang-orang yang membutuhkannya seperti delapan asnif yang telah disebutkan dalam al-Quran. Untuk itu, kita perlu mensosialisasikan betapa pentingnya zakat sebagai instrument pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin.

Transparansi Pengelolaan Zakat

Transparansi Pengelolaan Zakat Oleh : Mansari Zakat merupakan salah satu ibadah pokok dalam ajaran Islam yang juga rukun Islam (arkanul islam) ketiga yang multi dimensi fungsinya bila dibandingkan dengan ibadah mahdhah lainnya. Ibadah zakat selain berpengaruh pada tingkat keimanan seseorang dalam menunaikannya juga berpengaruh pada kondisi sosial perekonomian kemasyarakatan. Berbeda halnya dengan shalat yang hanya berpengaruh pada siapa saja yang melaksanakannya, tapi tidak ada korelasi dengan nilai-nilai humanisme. Mardani menyebutkan zakat bertendensi nilai moral, sosial dan ekonomi. Dalam bidang moral zakat mengikis habis ketamakan dan keserakahan orang kaya. Dalam bidang sosial zakat bertindak sebagai alat khas yang diberikan Islam untuk menghapuskan kemiskinan dari masyarakat dengan menyadarkan orang kaya akan tanggung jawab sosial yang mereka miliki. Dalam bidang ekonomi zakat mencegah penumpukan kekayaan yang mengerikan dalam tangan segelintir orang . Zakat dapat berperan sebagai instrument pengentasan kemiskinan bila pengelolaannya dilakukan secara transparan dan accountable. Untuk tujuan ini dibutuhkan sebuah lembaga yang memiliki kredibilitas dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan umat. Bila tidak dikelola dengan management yang handal, transparan dan penuh kejujuran, maka mustahil akan terwujud tujuan zakat yang sesungguhnya. Zakat tidak akan bisa dinikmati oleh para mustahik yang sebenarnya, akan tetapi akan dikonsumsi oleh pengelolanya. Kesuksesan penyaluran zakat hanya bisa dibaca dalam cerita klassik, tapi tidak bisa dipraktekkan di masa kini. Untuk itulah dibutuhkan sebuah lembaga zakat yang bisa mengatur, mengelola, merencanakan program-program yang dibutuhkan masyarakat dan mampu mendistribusikan zakat dengan penuh nilai-nilai kejujuran. Banyaknya aturan tentang zakat seperti Undang-Undang Nomor 38 tahun 1999 jo Undang-Undang nomor 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat tidak akan berpengaruh sama sekali bila tidak sinergi dengan pengelolanya. Akan tetapi kedua pilar tersebut harus disatupadukan visi dan misinya agar dalam penyaluran zakat lebih bermakna. Ujung Tombak Kesejahteraan Masyarakat Problematika kemiskinan merupakan salah satu penyebab munculnya permasalahan perekonomian masyarakat. Disparitas pemasukan antara orang kaya (aghniya) dengan orang miskin akan menimbulkan kecemburuan sosial yang pada suatu waktu akan menjadi konflik tersendiri. Sifat iri, dengki dan benci akan timbul kepada orang-orang yang memiliki penghasilan yang lebih besar darinya. Akibatnya akan timbul keretakan sosial diantara mereka, bahkan ada yang apatis antara satu dengan lainnya. Keadaan seperti itulah yang kemudian direspon dalam ajaran Islam dengan cara memberdayakan perekonomian yang lemah menjadi sama dengan mereka yang berpenghasilan tinggi. Ajaran Islam menawarkan zakat sebagai salah satu solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah kemiskinan. Bahkan zakat merupakan lembaga pertama dalam sejarah Islam yang mampu menjamin kehidupan bermasyarakat secara ma’ruf. Zakat dapat berperan sebagai ujung tombak untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat miskin. Kesejahteraan tersebut akan terwujud bila adanya komitmen bersama antara badan pengelola zakat (baitul mal) dengan muzakki (pemberi zakat) serta adanya management pengelolaan zakat yang transparan dan professional. Dalam hal ini kita bisa mengambil pola management sederhana namun bergizi yang dipelopori oleh James Stoner. Ia mengungkapkan empat konsep dasar management yang harus dilakukan untuk menjalankan roda organisasi yang bermutu, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan/pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling) . Terwujud atau tidaknya tujuan zakat tergantung pada sejauhmana kemampuan dan profesionalisme pengelola zakat dalam merencanakan program kerja dan pendistribusian zakat kepada orang yang berhak menerimanya. Untuk itu, maka diperlukan seorang yang mempunyai kapabilitas, kreatifitas, inovatif dan mampu menciptakan terobosan baru yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Karena tujuan zakat adalah bagaimana caranya untuk melahirkan muzakki baru dari mustahik zakat. Artinya orang yang berhak menerima zakat sekarang tidak bisa dibiarkan begitu terus sampai kapanpun. Akan tetapi harus diupayakan agar ke depan ia menjadi muzakki baru untuk menyalurkan zakatnya kepada orang lain yang lebih berhak dari hartanya. Oleh karena itu, terobosan yang harus diciptakan adalah dengan cara memberikan modal usaha kepadanya dalam menghasilkan nilai ekonomis. Pendistribusian zakat yang semacam ini disebut juga dengan istilah zakat produktif. Berbeda halnya dengan zakat konsumtif dimana uang hasil zakat digunakan untuk keperluan sehari-hari yang tidak bisa diproduktifitaskan.Disitulah sikap kekritisan pengelola zakat memainkan perannya dalam menciptakan terobosan dan inovasi baru yang lebih bermanfaat kepada masyarakat. Bila sikap kritis dan profesionalitas lembaga zakat tidak ada maka akan menimbulkan tumpang tindih lembaga dalam pendistribusian zakat. Dana zakat yang seharusnya diserahkan kepada delapan asnaf (samaniyatun asnaf) salah dalam pendistribusiannya. Misalnya saja penyaluran kepada korban bencana alam seperti bencana gempa yang seharusnya tidak bisa digunakan dari hasil zakat. Karena hasil zakat hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang telah ditetapkan dalam al-Quran. Bukan bermaksud tidak boleh disalurkan kepada korban gempa untuk membantu mereka, bahkan ajaran Islam meminta agar semua umat Islam saling tolong menolong. Tapi harus diambil dari dana lain yang bukan dari hasil zakat. Penanganan korban bencana sudah memiliki lembaga sendiri untuk membiayainya yang telah disediakan oleh pemerintah. Oleh karena itu tidak bisa digunakan uang yang diperoleh dari hasil zakat. Karena akan berakibat berkurangnya hak orang-orang yang lebih berhak mendapatkannya. Meskipun kurang tepat sasaran dalam penyaluran, tapi patut diapresiasikan kepada lembaga zakat kita. Karena zakat merupakan bagian dari hokum fiqh, dan hokum fiqh tidak terlepas dari ijtihad bila terjadi hal-hal baru yang sebelumnya belum ditemukan. Sesuai dengan kaidah fiqh “taghaiyuril ahkam bi taghaiyuril azman wal amkan”, perubahan suatu hokum ditentukan oleh perubahan waktu dan tempat. Oleh karena itu sangat cocok bila bila dilihat dalam kondisi kekinian demi kemaslahatan dan membantu umat yang lagi musibah. Terobosan baru yang bisa diselenggarakan oleh lembaga zakat yang memiliki manfaat bagi komunitas masyarakat barangkali untuk membangun rumah sakit zakat di Aceh. Rumah sakit memang sudah merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat luas yang perlu disediakan oleh lembaga zakat dari hasil zakat yang diperoleh dari masyarakat. Dengan adanya rumah sakit zakat, tentunya akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Masyarakat tidak perlu lagi membayar kepada tenaga medis rumah sakit, akan tetapi sudah ditanggung oleh dana dari zakat. Meskipun tidak sesuai pembagiannya kepada mustahik zakat, tapi hasilnya bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Yang tidak hanya dikonsumsi oleh fakir dan miskin, bahkan semua kalangan bisa menikmatinya. Mengingat begitu besar pengaruhnya zakat bagi kesejahteraan masyarakat, sudah seharusnya kita semua harus sadar bahwa zakat tidak hanya bernilai individual, tapi bernilai sosial. Dan dapat memberikan makna tersendiri bagi orang-orang yang membutuhkannya seperti delapan asnif yang telah disebutkan dalam al-Quran. Untuk itu, kita perlu mensosialisasikan betapa pentingnya zakat sebagai instrument pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin.

Minggu, 14 Oktober 2012

corak pemikiran syaltud

Corak pemikiran syaltud Ijtihad merupakan suatu pengerahan pikiran ulama terhadap problematika-problematika yang ada dalam masyarakat untuk menemukan hukum melalui sumber-sumber hukum yang diakui keabsahannya yaitu al-quran dan as-sunnah. Keberadaan ijtihad dizaman modern bagaikan lampu didalam ruang yang gelap gulita yang menerangi ruangan tersebut. Tujuan utama ijtihad adalah untuk menemukan hukum-hukum baru yang belum ditegaskan secara jelas oleh Al-quran dan as-sunnah yang masih bersifat mujmal dan hukum yang terdapat dalam kedua sumber tersebut ada yang masih bersifat dhanni yang membutuhkan untuk penginterpretasikan terhadap ayat atau yang dhanny tersbut, melalui ijtihadlah bisa diketahui hukum-hukumnya dengan pendekatan-pendekatan yang berbeda-beda yang dilakukan oleh para ulama, baik itu pendekatan sosial historis, kontekstual dan mengaitkan persoalan yang sedang terjadi dengan persoalan yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Syaltud mengatakan bahwa salah satu kenikmatan dalam islam adalah masih dibukanya pintu ijtihad bagi orang mampu untuk mengijtihadkannya dan ini merupakan suatu keunikan tersendiri dalam hukum islam. Sesugguhnya problema yang terjadi sekarang jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya dan hukum yang diterapkan untuk hal itu juga sangat berbeda. Dalam hal ini ada kaedah yang mengatakan bahwa “taghayyuril ah-kaam bi taghayyuril azmaan wal am-kaan” (perubahan suatu hukum tergantung pada perubahan suatu masa dan tempat-tempat tertentu. Hal ini bisa diakui, karena imam besar Syafi’I juga terdapat dua pendapat atau disebut juga dengan qaul qadim dan qaum jadiid. Qaul Qadim terdapat pada waktu imam syafi’I berada di Irak, dan ketika beliau berhijrah ke Mesir mengeluarkan pendapatnya yang baru terhadap persoalan yang ada dan bahkan terhadap kasus yang sama. Corak pemikiran seorang ulama mujtahid dalam mengistimbathkan hukum berbeda antara satu dengan yang lain. Begitu juga ijtihad Syaltud, dalam mengistimbathkan suatu hukum, syaltud tidak mengakui adany ijma’ sebagai sumber hukum. Akan tetapi, sumber hukum yang diakui dalam mengistimbathkan suatu hukum hanya menggunakan sumber hukum al-quran as-sunnah dan al-nazhar (penalaran). Dalam ini hal Syaltud berpendapat bahwa tidak mungkin semua ulama diseluruh dunia menyepakati keputusan terhadap suatu persoalan karena antara satu tempat dengan tempat yang lain sangat jauh dan tidak terjangkau transportasi pada waktu itu. Karya-karya syaltud 1. Fiqh Al-Quran Wa Al-Sunnah, dalam kitab ini syaltud mengemukakan hukum-hukum yang terdapat dalam al-quran dan as-sunnah. 2. Muqaranah Al-Madzahib, dalam kitab ini pembahannya lebih bersifat komparatif dengan membandigkan antara suatu pendapat ulama yang satu dengan pendapat ulama yang lain. 3. al-fatawa, dalam kitab ini syaltud hanya memuat fatwa-fatwanya yang ditanya oleh masyarakat terhadap problematika dalam masyarakat. 4. Tafsir Al-Quranul Karim, dalam kitab ini syaltud menafsirkan al-quran dengan metode-metode modern dan sesuai dengan konteks sosial dan budaya. 5. Al-Quran Wa Al-Mar’ah, dalam kitab ini beliau merumuskan kedudukan wanita menurut yang telah diatur oleh al-quran baik perwseorangan maupun yang berstatus istri. 6. Al-Islam ‘Aqidah Wa Syari’ah, buku ini menjelaskan landasi bagi seorang muslim yang mau beriman dan bertaqwa kepada Allah.

metode penemuan hukum oleh hakim

Metode penemuan hukum Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang independen, mandiri dan tanpa interrvensi lembaga negarapun dalam melaksanakan tugas kehakiman yang diembankan kepadanya. Bahkan, ketua pengadilanpun tidak boleh campur tangan ketika majelis hamik mengadili perkara. Tuga hakim adalah menerima, memeriksa, mengadili dan ,memutuskan perkara yang diajukan oleh para pencari keadilan untuk memutuskan perselisihan antara mereka. Putusan hakim mengikat para pihak-pihak dan para pihak harus melaksanakan putusan tersebut dengan penuh keikhlasan. Hakim dalam memutuskan perkara harus memahami dan mengetahui nilai-nilai kehidupan, kebiasaan-kebiasaan (living law) dalam suatu masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menciptakan putusan yang seadil-adilnya dan membuat keputusannya lebih bijak serta sempitnya peluang untuk menempuh upaya hukum lain, seperti banding, kasasi dan peninjauan kembali (upaya hukum luar biasa). Menurut Gustav Radbruch tujuan diciptakan hukum adalah agar terciptanya keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Keputsan hakim harus sangat sulit untuk mencapai ketiga hal itu, karena sangat sulit untuk mendefinisikan nilai keadilan itu sendiri. Adalakanya adil disuatu pihak dan tidak adil dipihak yang lain, begitu juga dengan kemanfaatan yang hanya mendapatkan manfaat dan kepuasan hanyalah pihak yang menang sedangkan pihak yang kalah harus menerima kenyataan yang ada dan harus menuruti keputusan itu. Dan tidak kalah pentingnya keputusan hakim juga harus mencerminkan nilai-nilai kepastian hukum bagi semua pihak agar pihak-pihak yang berperkara menerima putusan dan melaksanakan putusan tersebut. Oleh karena itu ketelitian, kehati-hatian hakim dalam memeriksa, mengadili, dan memutuskan perkara sangat dibuthkan agar terhindar dari kecurgaan seseorang kepada hakim, dan agar putusan tersebut dapat memenuhi tiga tujuan hukum yang sudah dipaparkan oleh Gustav Radbruch yaitu terciptanya keadilan bagi masyarakat, memberikan kemanfaatan, dan menjamin kepastian hukum. Hakim dalam melaskanakan tugasnya sehari-hari selalu berhadapan dengan masyarakat dan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lain jauh berbeda, begitu juga dengan UU yang bersifat Abstrak harus diinterpretasikan oleh hakim dalam memutuskan perkara yang konkret. UU yang masih bersifat abstak atau umum harus diinterpretasikan oleh hakim dalam bebeerapa bentuk antara lain : Pertama, mengkonstatir artinya bahwa hakim harus melihat dan membenarkan perkara yang diajukan padanya melalui pembuktian yang harus dilakukan oleh para pihak dengan mengemukakan alat-alat buki yang sah menurut huku seperti yang terdapat dalam pasal 184 KUHP, yaitu keterangan saksi, keterangan Ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Adapun alat bukti yang sah dalam perkara pertama seperti yang terdapat dalam pasal 164 HIR/pasal 284 RBg/pasal 1866 KUHPerdata yaitu : alat bukti tertulis, pembuktian dengan saksi, persangkaan, pengakuan dan sumpah. Kedua, mengkualifisir artinya hakim harus mengetahui peristiwa-peristiwa konkret yang ada, termasuk didalamnya melacak hubungan hukum antara pihak-pihak dan menggolongkan perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tersebut termasuk ke perbuatan apa. Setelah pengelompokan, barulah hakim harus memutuskan dan menerapkan hukum yang adalam UU, kebiasaan, doktrin, yurisprudensi, traktat dan lain sebagainya. Ketiga, mengkonstituir artinya bahwa hakim setelah mengetahui duduknya perkara antara penggugat dan tergugat atau terdawa barulah hakim memutuskan perkara tersebut. Hakim pejabat pengadilan yang tidak boleh menolak perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih hukum tidak ada untuk itu, akan tetapi seorang hakim harus menggali dan menemukan hukum yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Hakim dianggap mengetahui hukum meskipun UU kurang jelas atau masih kabur (Ius Curia Novit). Bahkan, meskipun hukum tidak ada terhadap perkara yang sedang diadilinya, hakim harus berijtiha dengan penuh kejelian dan kehati-hatian. Terkait hakim harus berijtihad terhadap perkara yang belum ada hukumnya, terdapat satu yang memberikan peluang agar ijtihad dilakukan oleh seorang hakim, yaitu : “apabila seorang hakim bertijtihad dan ijtihadnya benar, maka baginya mendapat pahala dua (ajroni), sedangkan apabila salah, maka hakim tersebut mendapat satu pahala (ajron).

dunia para koruptor

Dalam beberapa minggu terakhir media terus menerus mengabarkan kasus korupsi yang terjadi di Aceh mulai dari kasus korupsi di Aceh Utara yang melibatkan oknum-oknum dilingkungan pemerintahan setempat, penggelapan dana Beasiswa Unsyiah dan baru-baru ini muncul pemberitaan FITRA (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran). Ini merupakan suatu masalah yang harus diselesaikan secara segera dan tidak boleh ditunda-tunda. Penundaan penyelesaian kasus-kasus korupsi bisa menimbulkan masalah baru di Aceh dan mengakibatkan Aceh tercoreng moreng dalam NKRI. Terakhir berita yang dimuat serambi dalam Edisi 1 oktober 2012 bahwa Provinsi Aceh menempatkan pada posisi kedua terkorup setelah DKI Jakarta dan Banda Aceh menempatkan pada posisi ke empat setelah Jakarta Utara, Makasar dan Medan. (serambi, edisi 3 Oktober 2012). Meskipun belum ada kejelasan dalam penelusurian kebenaran berita tersebut, pemberitaan semacam itu sudah mencemarkan nama baik Aceh dan menimbulkan imej negatif dari provinsi-provinsi lain untuk menilai Aceh, bahkan tidak hanya provinsi yang ada di Indonesia yang menilai, akan tetapi isu ini menjadi isu Global yang pada akhirnya akan mengantarkan Aceh ke jurang kehancuran. Suatu realita diatas sangat menyedihkan dan memilukan bangsa Aceh yang di kenal dengan julukan Aceh Serambi Mekkah yang bermartabat di mata dunia. Fakta diatas harus ditelusuri lebih lanjut untuk mendapatkan kejelasan dalam menilai sebenarnya siapa yang terlibat dalam kasus tersebut dan untuk mengetahui apa memang benar-benar terjadi atau hanya rekayasa semata. Untuk menelusuri kasus tersebut dibutuhkan keterlibatan berbagai elemen agar hasil penelusurian mendapat hasil yang memuaskan, baik itu elemen masyarakat, LSM-LSM dan aparat penegak hukum (law enforcement) dan aparatur negara lainya juga mempunyai peran penting dalam memperjelas kasus yang muncuat ke permukaanatan, kemudian kepolisian juga harus menyelidiki data-data yang dikhabarkan FITRA, apakah data itu memang ada, atau hanya memang adanya kepentingan untuk memojokkan Provinsi Aceh dari provinsi-provinsi lain. Korupsi Menurut Islam Korupsi merupakan suatu bentuk White Coller Crime (WCC) atau yang sering disebut dengan kejahatan kerah putih. WCC adalah kejahatan yang dilakukan oleh orang yang mempunyai status sosial ekonomi yang tinggi dan terhormat atau dikalangan orang jawa disebut juga dengan istilah Priyayi. Dalam Islam hanpir tidak ditemukan kata-kata korupsi, akan tetapi ada beberapa istilah yang digunakan Islam dan dapat dianalogikakan seperti korupsi, yaitu : Pertama, Risywah, adalah pemberian yang diberikan oleh seseorang untuk memuluskan pekerjaan yang diinginkan agar mendapatkan keuntungan yang besar. Dengan kata lain pemberian ini hanya satu tujuan untuk melicinkan visi dan misi yang dapat merugikan orang lain. Risywah ini sangat dibenci oleh Islam, bahkan Nabi Muhammad SAW melaknat orang yang berbuat demikian, seperti yang terdapat dalam haditsn-Nya, “Rasulullah SAW melaknat pemberi suap dan penerima suap”. Kedua, Akl amwal bi al- Bathil, yaitu memakan sebagian harta orang lain dengan cara bathil (tanpa hak). Ketiga, Ghulul, yaitu harta yang diperoleh oleh pejabat negara dengan jalan illegal, seperti manipulasi, kecurangan, penggelapan dan lain sebagainya. Keempat, Ikhtilaas, yaitu perampasan atau penggelapan harta negara dengan modus penipuan. (chaider S. bamualim, Hal. 183-184). Hukuman bagi koruptor Dalam pasal 10 KUHP mengatur hukuman terhadap yang melakukan kejahatan antara lain : pidana mati, pidana penjara baik seumur hidup atau penjara untuk sementara waktu, kurungan dan denda. Kemudian dalam UU no. 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi menyebutkan hukuman tambahan terhadap orang yang melakukan tindak pidana korupsi antara lain, perampasan barang terwujud, pembayaran uang pengganti sebanyak-banyaknya sama dengan jumlah yang dikorupsi, penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk paling lama satu tahun, pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu. Sedangkan hukuman menurut hukum islam bisa diberikan ta’zir (hukuman yang ditetapkan oleh penguasa). Solusi memberantas Korupsi Dari data-data yang dikemukakan oleh FITRA diatas, tentunya masyarakat Aceh sudah merasa geram dengan perlakuan pejabat-pejabat pemerintahan yang bekerja di Instansi pemerintah. Oleh karena itu, sudah saatnya kita bangsa Aceh yang berjulukan dengan nama Serambi Mekkah untuk merapatkan barisan, saling bahu membahu untuk melawan korupsi di lingkungan Pemerintahan Aceh dengan berbagai macam cara, antara lain : Pertama, mensosialisasika kepada pejabat pemerintahan agar meninggalkan korupsi agar terwujudnya pemerintah yang baik dan bersih dari Hama korupsi (good and clean government), kedua, membuat qanun tentang Korupsi, karena kalau qanun sudah pasti hukumannya adalah Ta’zir (ketentuan hukum yang ditetapkan oleh penguasa, Seperti cambuk didepan umum) atau hukuman-hukuman lain yang membuat koruptor malu terhadap perbuatannya. Ketiga, aparat penegak hukum harus menegakkan hukum-hukum yang sudah ada. Keempat, menumbuh kembangkan kesadaran hukum juga hal yang sangat penting dan harus ditanamkan dalam hati diri seseorang, karena praktek korupsi selain merugikan negara juga akan mempengaruhi kesejahteraan rakyat dan pemerataan. Oleh karena itu mari sama-sama kita mewujudkan Aceh sebagai daerah yang baik dan selalu mendapat rahmat dan berkah dari Allah serta berada dibawah lindungan Allah atau menjadikan Aceh sebagai daerah Baltatun Thayyibatun Warabbul Ghafuur.