Sabtu, 31 Maret 2018

Buku Restoratif Justice Pergeseran Orientasi Keadilan dalam Penanganan Kasus Anak


Buku yang berjudul Restotatif Justice Pergeseran Orientasi Keadilan dalam Penanganan Kasus Anak ingin melihat terhadap praktek restoratif justice dan diversi dalam menangani kasus anak yang berkonflik dengan hukum di Aceh. Meskipun istilahnya baru namun substansi dari kedua konsep tersebut telah dilaksanakan di Aceh melalui peradilan adat. Istilah restoratif justice dan diversi baru diperkenalkan dalam Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2008 tentang Perlindungan Anak dan UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
Masyarakat aceh sering menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi dalam kehidupannya dengan melibatkan berbagai pihak yang terlibat, dalam hal ini adalah pihak pelaku dan korban. Keduanya dipertemukan untuk mencarikan solusi yang tepat untuk mengakhiri persoalan yang terjadi dalam masyarakat. Begitu juga konsep restoratif justice yang diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2012 di mana para pihak baik pelaku maupun korban dan pihak-pihak lainnya ikut dilibatkan.
Selanjutnya konsep diversi adalah pengalihan dari proses peradilan formal kepada non formal. Hal yang sama juga diberlakukan dalam konteks penyelesaian kasus pada masyarakat Aceh yang selalu ingin menghindari dari proses peradilan formal. Bahkan ada Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat Istiadat yang memberikan peluang kepada aparatur gampong atau tokoh adat untuk menyelesaikannya.
Hal yang membedakan dalam UU SPPA adalah hanya diberlakukan kepada anak-anak yang diduga melakukan tindak pidana. Sementara penyelesaian kasus dalam masyarakat Aceh, jika masih digolongkan tindak pidana ringan dapat dimungkinkan diselesaikan di luar pengadilan. Baik dilakukan oleh orang dewasa maupun anak-anak.
Delapan belas kasus tersebut adalah, perselisihan dalam rumah tangga; sengketa antara keluarga yang berkaitan dengan faraidh; perselisihan antar warga; khalwat meusum; perselisihan tentang hak milik; pencurian dalam keluarga (pencurian ringan); perselisihan harta sehareukat; pencurian ringan; pencurian ternak peliharaan; pelanggaran adat tentang ternak, pertanian, dan hutan; persengketaan di laut persengketaan di pasar; penganiayaan ringan; pembakaran hutan (dalam skala kecil yang merugikan komunitas adat); pelecehan, fitnah, hasut, dan pencemaran nama baik; pencemaran lingkungan (skala ringan); ancam mengancam (tergantung dari jenis ancaman); dan perselisihan-perselisihan lain yang melanggar adat dan adat istiadat.

Keadilan yang diinginkan dalam restoratif justice adalah keadilan pemulihan bukan pembalasan. Anak yang diduga melakukan tindak pidana tidak langsung diberikan penghukuman, akan tetapi perlu adanya pembinaan. Kalau dalam system peradilan pidana lebih mengedepankan keadilan formal procedural, maka dalam keadilan restoratif korban tetap diberikan kesempatan untuk bertemu serta bertanggungjawab kepada korban yang mengalami kerugian akibat dari perbuatan pelaku.
Secara keseluruhan buku RESTORATIF JUSTICE Pergeseran Orientasi Keadilan dalam Penanganan Kasus Anak menguraikan tentang pola penanganan kasus anak yang berkonflik dengan hokum yang dilakukan berdasarkan UU SPPA serta memadukannya dengan pola penyelesaian kasus yang diselesaikan oleh Masyarakat Aceh. Semoga kehadiran buku ini dapat berguna bagi khalayak ramai yang ingi mengkaji tentang penyelesaian kasus melalui peradilan adat aceh, khususnya tentang anak. Dalam buku ini juga menjelesakan hubungan antara restoratif justice dan diversi dalam penanganan kasus dalam kehidupan masyarakat aceh.
Buku tersebut diterbitkan oleh Zhahir Publishing Yogyakarta, Februari 2018. 

Rabu, 03 Januari 2018

Logo Fakultas Syari'ah dan Ekonomi Islam Universitas Iskandar Muda

Fakultas Syari'ah dan Ekonomi Islam merupakan salah satu fakultas di lingkungan Universitas Iskandar Muda Banda Aceh yang beralamat di Surin Kota Banda Aceh. Saat ini FSEI memiliki dua Prodi yaitu Prodi Hukum Keluarga dan Prodi Perbankan Syariah. Sejak memiliki izin operasional, FSEI sudah menghasilkan delapan orang alumni. Alumni yang dihasilkan sangat berkompeten di bidangnya masing-masing serta memiliki daya saing secara lokal, nasional dan bahkan internasional. Dosennya terdiri dari guru besar, doktor dan ada juga lulusan magister dari dalam dan luar negeri. Dari segi keilmuan dan kapasitasnya tidak diragukan lagi.
Bagi kamu yang berminat dapat langsung mengunjungi ke jalan. Kampus Unida, Surien Kota Banda Aceh.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Wanita Butuh Kepastian


Untuk kesekian kalinya Roni bertemu dengan kekasihnya. Dalam pertemuan kali ini suasananya sangat berbeda dengan sebelumnya. Kalau sebelumnya hanya pertemuan biasa, untuk kali ini sangat luar biasa. Bagaimana tidak? Sang kekasih yang cantik Jelita, Risa, ingin meminta keseriusan dari sang buah hati tercinta.
Dengan lantang Risa bertanya 'abang mau serius dengan hubungan yang kita bina selama ini?  Atau abang hanya cinta monyet saja?
Mendengar pertanyaan seperti itu, Roni kaget. Pertanyaan yang belum pernah dikeluarkan sebelumnya dari bibir sang kekasih. Roni dengan wajah yang tertipu malu agak enggan menjawab pertanyaan yang bom bastis itu. Dalam hati kecilnya berkata 'apa gerangan, kok tiba-tiba muncul pertanyaan aneh se-aneh itu'. Padahal ia tau selama ini, Risa masih dalam masa studi di sebuah kampus ternama di Aceh. Lantas kenapa pertanyaan itu ditanyakan dalam waktu yang cepat.  Hubungan pacaran yang mereka bina semenjak pertemuan pertama di depan Biro Rektor kampus negeri di Aceh itu baru 8 bulan. Pertanyaan aneh lain pun berseliweran di kepalanya. Dengan penuh tanda tanya, Roni menanyakan kepada sang kekasihnya yang baru duduk di semester tujuh. 'kenapa adek menanyakan pertanyaan itu dalam waktu yang sangat cepat?  Bukankah adinda lagi kuliah? Apakah dinda tidak takut putus kuliah gara-gara nikah pada usia muda?
Dengan tersipu malu, Risa menjawab "bukan begitu bang. Orang tua adek mau menjadikan dengan seorang lelaki yang gagah dan berbaju seragam. Tapi adek bilang jangan dulu karena sudah ada seorang lelaki yang saat ini mencintai dan menyayangi Risa. Bukannya Risa tidak terima, tapi kami harus menjalani hubungan yang telah lama kami bina bersama seseorang. Maafkan anandamu ma, banyak hal yang perlu dipertimbangkan.
Mendengar jawaban itu, Roni sontak kaget. Pertanyaan yang sebelumnya bergentanyangan di kepalanya terjawab sudah. Lega sekali mendengar jawabannya.
Si Roni yang juga lulusan kampus ternama itu, masih malu-malu memberikan jawaban dan kepastian kepada kekasihnya. Hati Roni memang sangat cinta dan sayang SAMA Risa. Tapi karena merasa belum siap untuk melamar kekasihmya itu. Banyak hal yang dipertimbangkan. Pertimbangan-pertimbangan itu pun satu persatu dijelaskan.
Sang kekasih pujaan hatiku, aku sebenarnya sangat mencintaimu, aku ingin mendampingi hidupmu. Tapi bisikan kau tunggu dan berikan beberapa waktu untukku untuk melamarmu.
'tidak masalah bang, yang penting abang serius, tidak main-main dengan hubungan ini. Adek juga tidak mau dulu membangun rumah tangga, karena adek perlu membangun karir dulu. Begitulah jawaban singkat dari Risa yang galau gara-gara mau dijodohkan sama orang tuanya.
Jawaban yang singkat itu memberikan sinyal positif bagi Roni, yang dari tadi deg-degan dengan jawaban si buah hatinya. Jawaban itu masih memberikan kepadanya untuk mempersiapkan diri menjadi calon pemimpin dalam rumah tangga nantinya.
Ada pesan penting yang ingin kami sampaikan adalah bahwa perempuan membutuhkan kepastian, bukan janji palsu yang kau utarakan. Wanita butuh bukti bukan omongan doang. Berilah kepastian kepadanya, buatlah dia bahagia. Karena dengan begitu, kebahagiaan akan dicapai selama-lamanya.
Malam pun mulai larut, Roni pun masih ingat obrolan bersama kekasihnya. Mungkin apa yang dialami hari ini dapat menjadi mimpi indah di malam ini.
Selamat malam,


Banda Aceh, 28 Oktober 2017

Mansari




Jumat, 13 Oktober 2017

Sajadah Hijau di Ulang Tahunku

Dokumentasi KPM - PAR IAIN Ar-Raniry
Tanpa terasa umurku telah melewati seperempat abad. Kini usiaku mulai memasuki 26 tahun. Usia yang tidak muda lagi. Tidak bisa main-main lagi. Sudah saatnya menentukan arah kehidupan dan pendamping hidup yang setia menemani hingga ajal menjemput. 
Ada hal yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Karena ketika memasuki usia tersebut, telah ditemani oleh seorang kekasih yang baik hati. Rasanya tidak boleh jauh darinya. Ia yang selalu menginspirasiku untuk melakukan hal-hal yang baik yang bermanfaat bagi orang lain. Seorang gadis berparas cantik yang kukenal sejak bulan Maret tahun 2017 melalui media social ini telah banyak mengubah hidupku. Tidak pernah henti-hentinya memberikan dukungan dan semangat dalam menunjang karirku. Sungguh gadis yang luar biasa. Kamu memang gadis pujaan dan dambaan hatiku.
Sajadah hijau yang kau hadiahkan di hari ulang tahunku yang ke – 26 ini telah membuatkan aku selalu jatuh cinta kepadamu. Tidak ada perempuan lain yang dapat menggantikannya. Melalui sajadah ini secara tidak langsung kau telah mengajarkan untuk selalu mengingat dan menyembah sang ilahi rabbi, sang pemilik kehidupan, yang selalu disembah oleh hamba-hamba-Nya. Melalui sajadah ini juga aku sudah menafsirkan sifat dan tingkah lakumu dalam kehidupan ini. Kamu adalah orang yang baik, yang taat menjalankan perintah agama.
Di saat aku menyembah Rabb – ku di atas sajadah hijau ini selalu mendoakanmu agar kamu kelak menjadi isteri yang solehah, menjadi ibu bagi anak-anakku yang mampu mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak kita suatu saat nanti. Ibu yang bisa mendidik dan membimbing anak-anak menuju surga yang diridhai oleh Allah.

Maafkan aku yang belum bisa melamarmu saat ini. Banyak faktor sebenarnya yang menghalanginya. Di samping kau masih dalam masa studi yang tidak bisa ditinggalkan, juga aku sedang mempersiapkan karirku yang dapat memantapkan masa depan supaya mudah dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Kuharap kau dapat mengerti kondisi ini. Hal ini aku lakukan demi kehidupan kita yang lebih baik pada masa yang akan datang. 

Banda Aceh, 13 Oktober 2017

Minggu, 07 Mei 2017

Buku Restoratif Justice Dibedah


Hari Selasa tanggal  13 Desember 2016 merupakan hari bahagia bagi diriku. Karya sederhanaku yang berjudul "Restorative Justice : Pergeseran Orientasi Keadilan dalam Penanganan Kasus Anak" mendapat apresiasi dari Pemerintah Aceh dalam hal ini Biro Tata Pemerintahan Sekda Aceh. Biro Organisasi Sekda Aceh bersedia memberikan fasilitas untuk membedah buku ini. Acara bedah buku dilaksanakan di Hotel Kuala Radja Kota Banda Aceh. Pembedah dihadirkan tiga orang yang terdiri dari kalangan Akademisi dan Praktisi Anak, yaitu: Prof. Dr. A. Hamid Sarong, SH.,MH (Guru Besar UIN Ar-Raniry B. Aceh), Riza Nizarli, SH.,MH (Dekan Fakultas Hukum UNMUHA dan Ketua Organisasi Bantuan Hukum (OBH) Restoratif Justice Working Group (RJWG) dan M. Ridha, MA (Praktisi Anak dari Kantor Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh. Acara yang berlangsung selama 4 jam dipandu oleh Firdaus D. Nyak Din yang merupakan pemerhati Anak Aceh.
Buku itu berawal dari Tesis pada saat menyelesaikan Studi di Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Judul Tesisnya adalah "Pelaksanaan Diversi Terhadap Anak Berhadapan dengan Huku Berdasarkan Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2008 tentang Perlindungan Anak". Sebelum menjadi buku, saya cetak seukuran buku dengan menggunakan format Tesis untuk diserahkan kepada Donatur Beasiswa Pendidikan, Qatar Charity. Penyerahan ini wajib dilakukan bagi mahasiswa dan siswa/siswi yang menerima bantuan dari Qatar Charity. Hal yang sama saya lakukan karena Qatar Charity memiliki jasa yang paling berharga buat saya yang telah memfasilitasi biaya pendidikan selama studi di Program Strata Satu (S1) di Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Ar-Raniry B. Aceh hingga pada Strata Dua (S2) di Program Studi Magister Ilmu Hukum Unsyiah. Selain menyerahkan satu eks tesis, saya menyerahkan satu jurnal yang di dalamnya terdapat dua artikel yang satu tulis di Jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Studi Gender dan Anak UIN Ar-Raniry Banda Aceh. 
Ternyata buku sederhana yang masih menggunakan format Tesis dipublish melalui Media Sosial  Facebook Milik Pak Ahmad Arif (salah seorang pengurus Kantor Qatar Charity Aceh). Banyak orang yang berkomentar terhadap postingan itu. Termasuk dari unsur pemerintah Aceh yang tertarik untuk mendalami content buku menawarkan supaya buku dibedah. Saya merasa bahagia sekali mendapatkan tawaran seperti itu. Mungkin ini merupakan sebuah rezeki dari yang maha kuasa. Saya tidak menyangka ada tawaran demikian. Alhamdulillah saya menerima tawaran tersebut dan bersedia karya kecil saya dibedah.
Banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan manakala sebuah buku dibedah. Dalam acara bedah selain adanya pembedah, turut diundang para audiens yang berasal dari berbagai kalangan yang tentunya memiliki pengetahuan, pemahaman dan pengalaman di bidangnya masing-masing. Berbeda-beda orang yang hadir, pandangan dan pendapat serta sudut pandang yang mereka gunakan berbeda-beda. Semua respon an saran dan masukan-masukan yang bersifat konstruktif dapat digunakan sebagai penyempurnaan buku sehingga dikonsumsi oleh umum. Peserta bedah buku yang dihadirkan terdiri dari unsur Dinas Sosial, Akademisi, LSM, Dinas Syariat Islam, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan, Badan Pembinaan Dayah, Majlis Adat Aceh, Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh dan Unsur di lingkungan Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA).
Dari pengalaman bedah buku yang saya diterima, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada kompasianer. Pertama, dalam membuat penelitian atau menulis sebuah buku haruslah diambil topic yang actual. Sebuah topic yang akan diangkat menjadi judul penelitian haruslah yang benar-benar baru dan layak diteliti. Hasil yang dicapai juga akan lebih bermakna dan menutupi kekurangan-kekurangan yang ada.
Kedua, gunakan bahasa yang sederhana supaya mudah dipahami. Orang yang membaca buku kita bukan hanya kalangan intelek, akan tetapi kalangan awam juga akan membaca karya kita. jika kita menggunakan bahasa ilmiah yang banyak tanpa mendefinisikannya kembali akan mengakibatkan orang yang membacanya menjadi bingung.
Ketiga, Tema yang disajikan menjawab persoalan-persoalan yang diinginkan oleh masyarakat. terkadang bagi mahasiswa semester akhir menuliskan sebuah skripsi atau tesis hanya sekedar jadi. Hanya untuk memenuhi syarat formalitas kelulusan studi. Kualitas dan nilai manfaatnya diabaikan. Hal ini sebenarnya harus dihindari dari mahasiswa. Karena melalui perguruan tinggi inilah diharapkan berkontribusi dalam membangun negeri berdasarkan penelitian-penelitian yang actual dan berdaya guna bagi masyarakat dalam menunjang pembangunan.




Kamis, 29 Oktober 2015

Problematika Poligami dan Dasar Hukumnya


BAB SATU
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Salah satu bentuk perkawinan yang selalu diperbincangkan dalam kehidupan dewasa ini adalah perkawinan poligami. Beberapa Negara muslim melarang tegas praktek poligami seperti di Turki, sebagian Negara muslim lainnya tidak melarang secara tegas, akan tetapi mempersulit praktek poligami. Pelarangan ini memiliki tujuan yang ingin dicapai yaitu agar terwujudnya kemaslahatan bagi perempuan dan anak-anak yang lahir dari praktek poligami.
Di Indonesia, meskipun dalam keadaan tertentu membolehkan seorang suami melangsungkan poligami dengan dua atau tiga orang perempuan dalam waktu yang bersamaan, tapi pelaksanaannya dipersulit melalui prosedur-prosedur yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengertian poligami dan dasar hukumnya yang dirumuskan dalam dua rumusan masalah berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan poligami
2.      Apa yang menjadi dasar hukum poligami dalam hukum Islam dan hukum positif Indonesia ?

BAB DUA
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Poligami
Kata poligami terdiri dari kata ‘poli’ dan ‘gami’. Secara etimologi, poli artinya banyak sedangkan gami artinya isteri. Jadi poligami itu artinya beristeri banyak. Secara terminology, poligami yaitu seorang laki-laki mempunyai lebih dari satu isteri atau seorang laki-laki beristeri lebih dari seorang, tetapi dibatasi paling banyak empat orang.[1]
Poligami adalah ikatan perkawinan dalam hal mana suami mengawini mengawini lebih dari satu isteri dalam waktu sama. Laki-laki yang melakukan bentuk perkawinan seperti itu dikatakan bersifat poligam. Selain poligami, dikenal juga poliandri. Dalam praktek poligami, suami memiliki beberapa orang isteri sedangkan dalam perkawinan poliandri, isteri memiliki beberapa suami dalam waktu yang sama. Dibangdingkan poligami, poliandri jarang dilakukan kecuali beberapa suku tertentu seperti suku Tuda dan suku-suku di Tibet.[2]
2.2. Dasar Hukum Poligami
Dasar hukum merupakan sumber yang dijadikan hukum yang mengatur tentang bentuk perkawinan poligami. Ada beberapa sumber yang mengatur tentang poligami yaitu landasan teologis yang terdapat dalam Alquran dan dasar hukum yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan Indonesia yakni UU Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1974. Untuk lebih jelasnya, uraian dasar hukum poligami akan dipaparkan seperti berikut ini:
a.       Landasan Teologis Poligami
÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? Îû 4uK»tGuø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/âur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9Ï÷ès? ¸oyÏnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ  
Artinya:
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menwanininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (Q.S. An-Nisa’: 3).
Ayat di atas diturunkan dengan latar belakang bahwa anak perempuan yatim berada dalam pemeliharaan walinya. Kecantikan dan harta anak yatim tersebut telah bercampur dengan harta wali tersebut. dan wali tersebut ingin menikahi perempuan yang berada di bawah perwaliannya tanpa berlaku adil dalam memberikan mahar kepadanya sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, maka dilarang menikahi perempuan yatim tersebut, kecuali bila berlaku adil dan memberikan mahar yang layak kepada mereka. Serta diperintahkan supaya menikahi wanita-wanita lain yang mereka senangi selain perempuan yatim tersebut.[3]
`s9ur (#þqãèÏÜtFó¡n@ br& (#qä9Ï÷ès? tû÷üt/ Ïä!$|¡ÏiY9$# öqs9ur öNçFô¹tym ( Ÿxsù (#qè=ŠÏJs? ¨@à2 È@øŠyJø9$# $ydrâxtGsù Ïps)¯=yèßJø9$$x. 4 bÎ)ur (#qßsÎ=óÁè? (#qà)­Gs?ur  cÎ*sù ©!$# tb%x. #Yqàÿxî $VJŠÏm§ ÇÊËÒÈ  
Artinya:
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung  (kepada isteri yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung……(Q.S. An-Nisa’ : 129).

            Para ulama mengatakan “mereka tidak akan dapat berlaku adil di antara para isteri berkenaan dengan apa yang terdapat dalam hati dan Allah memaafkannya. Dan mewajibkan keadilan dalam perkataan dan perbuatan. Jika dia condong dengan suatu ucapan atau perbuatan, maka itulah kecenderungan (ketidakadilan).[4]
Selain terdapat dalam Alquran, ketentuan hukum poligami terdapat dalam Hadits Nabi Saw. Abu Daud meriwayatkan dari al-Harits bin Qais bin ‘Umairah al-Asadi, ia mengatakan “Aku Masuk Islam, sedangkan aku mempunyai delapan isteri, Lalu aku menyebut hal itu kepada Nabi Saw. maka belia bersabda, “Pilihlah empat di antara mereka”.
b.      Landasan Hukum Positif Indonesia (Ius Constitutum)
Landasan hukum positif yang mengatur poligami terdapat dua sumber hukum yaitu UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam. Kedua sumber hukum di atas menjadi sumber hukum perkawinan bagi umat muslim di Indonesia. Dalam Pasal 3 Ayat (2) UU Perkawinan menyebutkan Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Adapun syarat-syarat dibolehkannya melakukan poligami dapat dilihat dari Pasal 4 Ayat (2) yang menyatakan.
a.       Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri
b.      Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
c.       Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.
Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-undang ini, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a.       Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri
b.      Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka
c.       Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka.
Ketentuan mengenai poligami dalam KHI diatur dalam Pasal 55 sampai dengan Pasal 59. Pasal 56 KHI menyebutkan:
1.      Suami yang hendak beristeri lebih dari satu orang harus mendapat izin dari Pengadilan Agama.
2.      Pengajuan permohonan Izin dimaksud pada ayat (1) dilakukan menurut pada tata cara sebagaimana diatur dalam Bab.VIII Peraturan Pemeritah No.9 Tahun 1975.
3.      Perkawinan yang dilakukan dengan isteri kedua, ketiga atau keempat tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum.
Berdasarkan diskusi panjang dengan mahasiswanya, A. Hamid Sarong menyebutkan bahwa poligami bukanlah sebuah prestasi melainkan solusi untuk perkawinan disharmonisasi dalam keluaga. Poligami dilakukan bukan dikarenakan telah direncanakan terlebih dahulu, akan tetapi terjadi dalam perjalan kehidupan. Ada laki-laki yang berpoligami karena keadaan memaksa seperti perjalan jauh ke pedalaman dan ada juga dikarenakan adanya kekayaan yang melimpah sehingga mengawini perempuan merupakan sebuah pilihan karena mampu membiayaakannya[5].

DAFTAR PUSTAKA
A. Hamid Sarong, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, cet. 3, Banda Aceh: Yayasan Pena, 2010.
Abdurahmah Ghazali, Fiqh Munakahat, cet. 2, Jakarta: Kencana, 2006.
Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq, Panduan Nikah dari A sampai Z, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2006.
Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.



[1] Abdurahmah Ghazali, Fiqh Munakahat, cet. 2, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm. 129.
[2] Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 43-44.
[3] Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq, Panduan Nikah dari A sampai Z, (Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2006), hlm. 467.
[4] Ibid.,, hlm. 470.
[5] A. Hamid Sarong, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, cet. 3, (Banda Aceh: Yayasan Pena, 2010), hlm. 189.